PENGARUH TIMBAL BALIK SEKOLAH DAN MASYARAKAT


  1. Pendahuluan                                                                                                                                            Pendidikan selalu diarahkan untuk pengembangan nilai-nilai kehidupan manusia. Di dalam pengembangan nilai ini, tersirat pengertian manfaat yang ingin dicapai oleh manusia di dalam kehidupannya. Jadi, apa yang ingin dikembangkan merupakan apa yang dapat dimanfaatkan dari arah pengembangan itu sendiri. Pendidikan itu merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian anak baik di luar dan di dalam sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dan pengertian tersurat suatu pernyataan bahwa

pendidikan berlangsung di luar dan di dalam sekolah. Pendidikan diluar sekolah dapat terjadi dalam keluarga dan didalam masyarakat. Jadi pendidikan itu berlangsung seumur hidup dimulai dari keluarga kemudian diteruskan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Dalam proses pendidikan terjadi hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan.

Dengan demikian pemakalah, mencoba untuk memaparkan uraian tentang Pengaruh Timbal Balik yang dikhususkan pada Pengaruh Timbal Balik antara Sekolah dan Masyarakat.

  1. Pengertian Sekolah dan Masyarakat

Sebelum memaparkan hubungan sekolah dan masyarakat yang nantinya akan nampak pengaruh dari keduanya, disini pemakalah mencoba mengingatkan kembali pengertian dari sekolah dan masyarakat, dengan tujuan agar lebih mudah memahami pemaparan yang disampaikan dalam makalah ini.

  1. Sekolah

Pengertian Sekolah menurut Reimer yang di kutip oleh Sagala (2007:70), Sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin guru untuk mempelajari kurikulum-kurikulum yang bertingkat.

Masih dalam kutipan Sagala (2007:70), Postman dan Weingartner mengemukakan bahwa “School as institution is the specific set of essential function is server in our society”, Sekolah di definisikan sebagai institusi yang spesifik dari seperangkat fungsi-fungsi yang mendasar dalam melayani masyarakat.

Dari ke dua teori tersebut, dapat dimengerti bahwa sekolah merupakan sebuah lembaga yang memfokuskan pada pendidikan, yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok umur tertentu di dalam ruangan dan dipimpin oleh seorang pengajar atau guru, yang fungsi-fungsi mendasarnya adalah melayani masyarakat.

  1. Masyarakat

Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama, serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut (http://harrisanggara.blogspot.com,2011:117)

Sementara itu, Hasbullah (2009:95) mengutip pengertian masyarakat dari Prof. Robert W. Richey yang memberikan batasan tentang masyarakat sebagai berikut:

”The term community refers to a group of people living togather in a region where common ways of thinking and acting make the in habitans aware of them selves as a group” Istilah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama disuatu wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang (relatif) sama yang membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai satu kesatun (kelompok).

Demikian pengertian masyarakat yang diberikan para ahli. Meskipun banyak pengertian lain, akan tetapi pada dasarnya tidak terlalu banyak berbeda. Yang jelas masyarakat adalah suatu perwujudan kehidupan bersama manusia, di mana di dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi.   

  1. Pengaruh Sekolah terhadap Masyarakat

Sekolah sebagaimana telah dipaparkan di atas adalah sebuah lembaga yang memfokuskan pada pendidikan, yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok umur tertentu di dalam ruangan dan dipimpin oleh seorang pengajar atau guru, yang fungsi-fungsi mendasarnya adalah melayani masyarakat. Dengan aktivitas yang demikian maka sekolah sedikit banyak dapat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

Pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada luas-tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas sebaran produk sekolah di tengah-tengah masyarakat, tentu produk sekolah tersebut membawa pengaruh positif yang berarti bagi perkembangan masyarakat bersangkutan. Sekolah dapat disebut sebagai lembaga investasi manusiawi. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat. Rendahnya kualitas faktor manusia disetiap masyarakat, akan berpengaruh terhadap prestasi yang bisa dicapai oleh masyarakat bersangkutan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa antara masyarakat dan sekolah terdapat hubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Berikut ini seperti yang dikutip pemakalah dalam buku Hasbullah (2009:104) akan dikemukakan secara garis besar tentang beberapa pengaruh yang dapat dimainkan oleh sekolah terhadap perkembangan masyarakat dilingkungannya.

  1. Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat

Peran yang dimainkan oleh lembaga persekolahan terutama jalur pendidikan sekolah di dalam peningkatan intelegensi atau kecerdasan anak didiknya, secara langsung bisa dipandang sebagai kontribusi lembaga pendidikan sekolah dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa. Bagaimanapun pada akhirnya anak didik setelah keluar dari lembaga pendidikan akan kembali menjadi warga masyarakat.

  1. Membawa Pengaruh Pembaharuan bagi Perkembangan Masyarakat.

Realitas semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sementara di satu pihak masalah-masalah atau tantangan kehidupan yang tidak ada henti-hentinya, mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik baru yang bersifat inovatif. Apa yang menjadi program sekolah pendidikan di persekolahan, disamping menjamin upaya peningkatan kecerdasan, juga mengupayakan tranformasi dari pengetahuan, pemikiran dan praktik-praktik  baru terutama yang dianggap fungsional dan relevan dengan jenis dan tingkatan dari sekolah masing-masing.  Materi-materi dan program sekolah tersebutlah yang nantinya akan menjadi pembaharuan bagi perkembangan masyarakat.

  1. Menciptakan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat.

Untuk terjun ke dunia kerja, seseorang dituntut kesiapan tertentu yang diperlukan oleh lapangan kerja bersangkutan. Kesiapan tersebut meliputi pengetahuan, skill, dan sikap. Fungsi penyiapan bagi kepentingan dunia kerja, dalam kenyataannya tidak terlepas dari lembaga pendidikan persekolahan.

Dengan berfungsinya lembaga pendidikan jalur pendidikan sekolah di dalam memberikan bekal-bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang relevan bagi dunia kerja, hal tesebut secara tidak langsung membawa efek terhadap lapangan kerja di masyarakat.

  1. Memunculkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Demikianlah beberapa pengaruh sekolah sebagai lembaga pendidikan formal terhadap masyarakat. Meskipun tampaknya sekolah mempunyai andil besar terhadap masayarakat, sebaliknya masyarakat juga menuntut agar sekolah mampu memerankan dirinya sejalan dengan keinginan masayarakat. Beberapa peran yang dituntut terhadap sekolah adalah sebagai berikut : (Hasbullah, 2009:107)

  1. Konservatif

Maksudnya adalah untuk meneruskan kebudayaan yang diseleksi kepada generasi muda agar mereka mempertahankan, memelihara, dan menjamin kelangsungan hidup masyarakat.

  1. Evaluatif dan Inovatif

Sekolah berperan penting dalam evaluatif dan inovatif, yaitu dimaksudkan agar anak didik tidak hanya menerima begitu saja kebudayaan generasi lama. Karena dunia sekarang memerlukan kebudayaan, pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap serta adat kebiasaan yang disesuaikan dengan zaman modern.

  1. Pengaruh Masyarakat terhadap Sekolah

Seiring dengan terjadinya perubahan drastis di dalam tata kehidupan bangsa Indonesia, maka masyarakat ideal yang di cita-citakan adalah masyarakat sipil, demokratis, masyarakat yang berkualitas, dan masyarakat yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Perubahan tata kehidupan ini menuntut perubahan-perubahan besar di dalam tata kehidupan manusia termasuk pendidikan.

Penyelenggaraan pendidikan baik negara maupun swasta harus berani mengambil sikap dan wawasan bahwa mau tidak mau setiap sekolah harus melibatkan masyarakat setempat, terutama orang tua peserta didik, dalam pengembangan pendidikannya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu, keterkaitan masyarakat dengan pendidikan sangat erat dan saling mempengaruhi. Maksudnya disini adalah suatu masyarakat yang maju karena adanya pendidikan yang maju, baik dalam arti mutu atau kualitasnya maupun kuantitasnya. Masyarakat dengan segala simbol dan identitasnya yang memiliki dinamika ini, secara langsung akan berpengaruh terhadap pendidikan persekolahan. Pengaruh-pengaruh teratur itu adalah sebagai berikut : (Hasbullah, 2009:111)

  1. Terhadap Orientasi dan Tujuan Pendidikan

Dalam orientasi dan tujuan pendidikan jelas akan diwarnai oleh masyarakat, mengingat masyarakat merupakan lembaga masyarakat. Identitas suatu masyarakat dan dinamikanya senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh dan untuk masyarakat. Program pendidikan disekolah biasanya tercermin di dalam kurikulum, yang dimana kurikulum ini selalu berubah-berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pengaruh identitas suatu masyarakat terhadap program-program pendidikan, biasanya dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan. Hal ini desebabkan setiap masyarakat memiliki ciri khas dalam orientasi dan tujuan pendidikan tersendiri.

  1. Terhadap Proses Pendidikan di Sekolah

Berlangsungnya proses pendidikan disekolah tidak lepas dari pengaruh masyarakat, pengaruh masyarakat yang dimaksud adalah pengaruh sosial budaya dan partisipasinya. Pengaruh sosial budaya biasanya tercermin dalam proses belajar baik yang berkaitan dengan pola aktifitas pendidikan maupun anak didik di dalam proses pendidikan. Nilai sosial budaya masyarakat bisa menjadi penghambat dan pendukung terhadap proses pendidikan. Oleh karena itu usaha pembaharuan terhapat proses pendidikan disekolah, mesti memperhitungkan pengaruh sosial budaya dari masyarakat lingkungannya.

  1. Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial.(Rohiat, 2008:67)

Hubungan sekolah dan masyarakat memiliki hubungan rasional berdasarkan kebutuhan. Adapun gambaran hubungan rasional diantara keduanya adalah sebagai berikut (http://harrisanggara.blogspot.com/2011/17):

  1. Sekolah sebagai lembaga layanan terhadap kebutuhan pendidikan dimasyarakat yang membawa konsekuensi-konsekuensi dan konseptual serta teknis yang berkesesuaian antar fungsi pendidikan yang diperankan sekolah dengan yang dibutuhkan masyarakat. Untuk menjalankan tujuan pendidikan yang rasional dan ideal, maka sekolah memerlukan mekanisme informasi timbal balik yang rasional, objektif dan realitas dengan masyarakat.
  2. Sasaran pendidikan yang ditangani lembaga persekolahan ditentukan kejelasan formulasi kontrak antara sekolah dengan masyarakat. Diperlukan pendekatan komprehensif didalam pengembangan program dan kurikulum untuk masing-masing jenis dan jenjang persekolahan.
  3. Pelaksanaan fungsi sekolah dalam melayani masyarakat yang dipengaruhi oleh ikatan-ikatan objektif diantara keduanya. Ikatan objektif tersebut berupa perhatian, penghargaan dan lapangan-lapangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan-jaminan objektif lainnya.

Hubungan sekolah dan masyarakat sudah didesentralisasikan sejak lama. oleh karena itu, hampir sama halnya dengan pelayanan siswa, yang dibutuhkan adalah peningkatan kemampuan dan ekstensitas atau perluasan hubungan sekolah dan masyarakat.

Hubungan sekolah dan masyarakat ini merupakan esensi pendidikan berbasis masyarakat yang sejalan dengan keputusan politik desentralisasi pemerintahan. Praksis ini dilegitimasi dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyebutkan bahwa ”Pedidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat” (Danim, 2010:176)

Selanjutnya dapat dipahami pula bahwa hubungan antar sekolah dan masyarakat tidak hanya dititik beratkan kepada sekolah sebagai peran utama, melainkan juga masyarakat. Ini dapat dilihat pula di dalam UU No. 20        tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 54 dikemukakan (Hasbullah, 2007:91):

1)   Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan ;

2)   Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

Jadi, keterkaitan antara sekolah dan masyarakat tidak hanya sebatas antara sekolah dan orang tua siswa yang merupakan masuk ke dalam ranah masyarakat. Akan tetapi keduanya dapat bersama-sama bekerjasama dalam mewujudkan apa yang telah menjadi tujuan pendidikan khususnya tujuan pendidikan nasional. Sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003, pasal 3, yaitu tujuan pendidikan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (UU RI No. 2 Tahun 1989 butir Menimbang Ayat b) ( Tirtarahardja, 2008:173)

  1. Membina Hubungan antara Sekolah dan Masyarakat

Dalam Pelaksanaan lingkungan inklusif ramah terhadap pembelajaran membutuhkan peran dan tanggung jawab berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung, pihak-pihak tersebut antara lain masyarakat, guru, dan orang tua.

Masyarakat yang dimaksud adalah orang tua atau wali peserta didik, anggota keluarga yang lain atau semua orang yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Dalam konteks menyeluruh masyarakat merupakan tempat anak hidup dan belajar kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam membina hubungan antara sekolah dan masyarakat ini dapat berupa menjalin kemitraan. Kemitraan harus dianggap sebagai koneksi antar sekolah dan sumber masyarakat. Membangun kemitraan memerlukan visi, perencanaan, strategis, kepemimpinan kreatif dan peran baru bagi para profesional yang bekerja di sekolah dan masyarakat. Danim (2010:179) menjabarkan beberapa kegiatan di mana sekolah bisa terlibat untuk membangun/meningkatkan kemitraan sekolah-masyarakat, diantaranya seperti yang disajikan di bawah ini:

  1. Mendorong masyarakat menggunakan fasilitas sekolah
  2. Perjamuan
  3. Minggu kembali ke sekolah
  4. Prospektus
  5. Honor Roll.
  1. Kesimpulan

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah terdiri dari pedidik dan anak didik. Antara keduanya sudah barang tentu terjadi adanya saling berhubungan, baik antar guru dengan anak didik maupun antara anak didik dengan anak didiknya. Sehingga hubungan tersebut dapat mempengaruhi hubungan keduanya.

Sekolah  diartikan sebagai sebuah lembaga yang memfokuskan pada pendidikan, yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok umur tertentu di dalam ruangan dan dipimpin oleh seorang pengajar atau guru, yang fungsi-fungsi mendasarnya adalah melayani masyarakat. Dan masayarakat adalah suatu perwujudan kehidupan bersama manusia, di mana di dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi.   

Pengaruh Sekolah terhadap Masyarakat secara garis besar dapat dirincikan sebagai berikut:

  1. Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat
  2. Membawa Pengaruh Pembaharuan bagi Perkembangan Masyarakat.
  3. Menciptakan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat.
  4. Memunculkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Masyarakat dengan segala simbol dan identitasnya yang memiliki dinamika ini, secara langsung akan berpengaruh terhadap pendidikan persekolahan. Pengaruh-pengaruh teratur itu adalah sebagai berikut :

  1. Terhadap Orientasi dan Tujuan Pendidikan
  2. Terhadap Proses Pendidikan di Sekolah

Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial.

Hubungan sekolah dan masyarakat ini merupakan esensi pendidikan berbasis masyarakat yang sejalan dengan keputusan politik desentralisasi pemerintahan. Praksis ini dilegitimasi dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, juga di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 54.

Daftar Pustaka

Danim, Sudarwan. 2010. Pengantar Kependidikan Landasan, teori, dan 234 Metafora Pendidikan. Bandung:CV. Alfabeta.

Hasbullah. 2007. Otonomi Pendidikan Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hasbullah. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Rohiat. 2008. Manajemen SekolahbTeori Dasar dan Praktik Dilengkapi dengan Contoh rencana Strategi dan Operasional. Bandung: PT. Refika Aditama

Sagala, Syaiful. 2007. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan (Pembuka Ruang Kreativitas, Inovasi dan Pemberdayaan Potensi Sekolah dalam sistem Otonomi sekolah). Bandung: Alfabeta.

Tirtarahardja, Umar. 2008. Pengantar Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Advertisements

Motivasi


  1. Konsep Motivasi

Istilah motivasi terkadang sering dibedakan pengertiannya dengan istilah motif. Motif adalah daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu (Winkel, 1996), sedangkan menurut Azuan (dalam Irfan, dkk, 2000) motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, dan atau dorongan dalam diri seseorang yang

disadari/tidak disadari yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.

Berikut ini beberapa pengertian motivasi menurut tokoh pendidikan, yaitu :

  • Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang menggerakkan dan medorong terjadinya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu;
  • Menurut Eggen dan Kauchak (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang memberi energi, menjaga kelangsungannya dan mengarahkan perilaku terhadap tujuan;
  • Menurut Mc. Donald (Hamalik, 1981), motivasi adalah perubahan energi pada dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk  mencapai tujuan;
  • Menurut Petri (dalam Khadijah, 2009), motivasi adalah kekuatan yang bertindak pada organisme yang mendorong dan mengarahkan perilakunya.

Jadi, motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi merupakan hal yang dapat disimpulkan karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Tiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang itu didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam dirinya sendiri, kekuatan pendorong inilah yang kita sebut motif.

Pencapaian suatu keberhasilan dalam hidup dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri. Misalnya, keberhasilan dalam pembelajaran dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri si pembelajar itu sendiri. Oleh karena itu, motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar sehingga siswa yang bermotivasi tinggi memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar.

Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Motivasi adalah aspek penting dari prinsip pengajaran dan pembelajaran. Peserta didik yang tidak memiliki motivasi tidak akan berusaha keras untuk belajar, sedangkan peserta didik yang memiliki motivasi yang tinggi akan lebih antusias dan semangat untuk mengikuti proses pembelajaran.

Kerangka motivasi, secara umum dapat digambarkannya sebagai berikut :

Motivasi                   Perilaku                   Tujuan

  1. Teori-teori Motivasi

Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009) ada empat teori motivasi, yaitu :

1)  Teori Drive (Teori Dorongan Motivasi)

Menurut teori ini motivasi terdiri dari:

(1)  Kondisi tergerak;

(2)  Perilaku diarahkan ke tujuan yang diawali dengan kondisi tergerak;

(3)  Pencapaian tujuan secara tepat;

(4)  Reduksi kondisi tergerak dan kepuasan subjektif;

(5)  Kelegaan tatkala tujuan tercapai.

2)  Teori Insentif (Teori pull atau tarikan)

teori insentif adalah individu mengharapkan kesenangan dari pencapaian dari apa yang disebut insentif positif dan menghindari apa yang disebut insentif negatif.

3)  Teori Opponent Process

bahwa manusia dimotivasi untuk mencari tujuan yang memberi perasaan emosi senang dan menghindari tujuan yang menghasilkan ketidaksenangan.

4)  Teori Optimal Level

Menurut teori ini individu dimotivasikan untuk berperilaku dengan cara tertentu untuk menjaga level optimal pembangkitan yang menyenangkan.

Menurut Elliot, dkk (dalam Khadijah, 2009), ada empat teori motivasi yang saat ini banyak dianut, yaitu:

1)  Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Menurut teori ini, orang termotivasi terhadap suatu prilaku

2)  Teori Kognitif Bruner

Untuk membangkitkan motivasi Bruner adalah discovery learning. Siswa dapat melihat makna pengetahuan, keterampilan, dan sikap bila mereka menemukan semua itu sendiri.

3)  Teori Kebutuhan Berprestasi (need Achievementtheory)

Mc. Clelland (dalam eliot, 1996) menyatakan bahwa individu yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi adalah mereka yang berupaya mencari tantangan, tugas-tugas yang cukup sulit, dan ia bisa melakukan dengan baik.

4)  Teori Atribusi

Teori ini bersandar pada tiga asumsi dasar (petri, dalam elliot, dkk, 1996), yaitu :

(1)    Orang ingin tahu penyebab prilakunya dan prilaku orang lain, terutama prilaku yang penting bagi mereka;

(2)    Mereka tidak menetapkan penyebab perilaku mereka secara random;

(3)    Penyebab perilaku yang di tetapkan individu mempengaruhi perilaku berikutnya.

5)  Teori Operant Conditioning Skinner

Menurut Skinner, perilaku dibentuk dan dipertahankan oleh konsikuensi dari perilaku sebelumnya mempengaruhi perilaku yang sama.

6)  Teori Social Kognitif Learning

Menurut Bandura (Elliot, dalam Khadijah, 2009), orang belajar berperilaku dengan cara mencontoh. Perilaku orang lain yang dianggap berkompeten disebut model.

  1. Prinsip-prinsip Motivasi

Salah satu fungsi pengajar adalah memberikan motivasi kepada pihak yang diajarkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Berikut ini adalah beberapa prinsip motivasi menurut Kennet H. Hover (Surya, 2004), yaitu :

1)       Prinsip Kompetisi

2)       Prinsip Pemacu

3)       Prinsip Ganjaran dan Hukuman

4)       Kejelasan dan Kedekatan Tujuan

5)       Pemahaman Hasil

6)       Pengembangan Minat

7)       Lingkungan yang Kondusif

8)       Keteladanan

  1. Faktor-faktor Krisis Motivasi

Dewasa ini, di kalangan tenaga-tenaga pendidik banyak dibicarakan/disinyalir terjadinya “Krisis Motivasi Belajar” lebih-lebih di sekolah menengah atau kalangan remaja. Gejala tersebut ditunjukan dengan kenyataan berkurangnya perhatian siswa pada waktu pelajaran, kelalaian dalam mengerjakan pekerjaan rumah, penundaan persiapan bagi ulangan atau ujian sampai saat terakhir (belajar musiman), pandangan asal lulus cukup, dan lain-lain.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kepada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai (Sardiman, 1990). Jika individu mempunyai motivasi belajar yang tinggi, maka individu tersebut akan mencapai prestasi yang baik.

  1. Motivasi Belajar

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai suatu tujuan. Motivasi ini timbul karena adanya kebutuhan yang mendorong individu atau untuk melakukan tindakan yang terarah kepada suatu tujuan, sehingga dalam bentuk yang sederhana.

  1. Jenis-jenis Motivasi Belajar

Menurut Winkel (dalam Khadijah, 2009), berdasarkan sumbernya motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :

1)    Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul karena ada rangsangan atau bantuan dari orang lain.

2)    Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang timbul dari diri orang yang bersangkutan tanpa rangsangan atau bantuan dari orang lain.

  1. Ciri-ciri Motivasi Belajar

Menurut teori psikoanalisa Freud (Sardiman, 1990), ciri-ciri motivasi yaitu :

1)       Tekun menghadapi tugas, artinya dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai;

2)       Ulet menghadapi kesulitan, artinya tidak lekas putus asa;

3)       Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah;

4)       Lebih senang bekerja sendiri;

5)       Cepat bosan terhadap tugas rutin;

6)       Dapat mempertahankan pendapatnya jika sudah yakin akan sesuatu;

7)       Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini;

8)       Suka mencari dan menyelesaikan masalah.

  1. Fungsi Motivasi Belajar

Fungsi motivasi belajar menurut Mosely (Hamalik, 2005) adalah sebagai berikut :

1)       Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan (tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar);

2)       Motivasi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan;

3)       Motivasi sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Artinya besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

  1. Hal-hal yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Menurut Lashley (dalam Khadijah, 2009), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut :

1)       Faktor fisiologis, antara lain yaitu kelelahan baik kelelahan mental maupun fisik;

2)       Emosi atau yang disebut dengan kondisi yang termotivasi. Emosi meningkatkan keinginan seseorang melakukan sesuatu;

3)       Kebiasaan yang bisa menjadi motivator;

4)       Mental sets, nilai dan sikap individu;

5)       Faktor lingkungan dan insensif.

  1. Peran Motivasi Dalam Mencapai Keberhasilan Belajar

Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non interlektul. Dengan demikian, motivasi memiliki peran strategis dalam belajar, baik pada saat akan mulai belajar, saat sedang belajar, maupun pada saat berakhirnya pembelajaran. Agar perannya lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam aktivitas belajar harus dijalankan.

Motivasi merupakan salah satu unsur dalam mencapai keberhasilan yang optimal selain kondisi kesehatan secara umum, intelegensi, bakat, dan minat. Seorang anak didik bukan tidak bisa mengerjakan sesuatu, tetapi ketidakbiasaan itu disebabkan oleh kemauan yang tidak terlalu banyak terhadap pekerjaan itu. Motif yang kurang menyebabkan dorongan dan kemauan tidak kuat, sehingga hasil kerjanya tidak sesuai dengan kecakapan. Jadi, semakin besar atau kuat motivasi yang dimiliki peserta didik maka semakin besar pencapaian keberhasilan belajar yang dimilikinya.